Sabtu, 26 Februari 2011

Mengejar Pocong Menangis

created by : Briandnezha 
Hy, aku Briand. Aku punya pengalaman seram ketika aku kecil dulu. Langsung aja ke cerita seramnya.

* Mengejar Pocong Menangis *

Tahun 1998 ketika aku br masuk SD kls 1.
Kampung aku waktu itu tiap malam di teror suara2 serta penampakan pocong menangis di tengah malam.

Asal mula munculnya pocong menangis ini ketika, salah satu warga kampung sebut saja Pak Misno meninggal dunia karena terjangkiti virus HIV AIDS.
Semasa hidup pak Misno terkenal sebagai orang berperangai kasar, suka mabuk2an, maen perempuan, dan sering di ketemukan sedang bermain judi di terminal oleh penduduk kampung.
Semua penduduk tak ada yang berani sama pak Misno. Pak lurah dan para tokoh agama di kampungku sudah berulang kali menasehati dia. Tapi emang dasar kalu jiwanya sudah di rasuki iblis selamanya tetap akan jd pengikut iblis ...

Kira2 hari rabu malam, pak misno di kabarkan meninggal di tempat pengasingannya di ujung kampung (dia mengasingkan diri karena malu sebagai pengidap HIV).

Warga yg selama ini merasa di rugikan atas kelakuan pak Misno semasa hidup tak ada yang datang melayat, selain masih dendam, ada jg yg enggan datang krn takut dekat2 sm orang pengidap HIV AIDS, meski orangnya udah meninggal.

Singkat ceritanya, jenazah pak Misno di mandikan, di kafankan, lalu di sholatkan di mesjid. Dan di makamkan kamis siangnya yang hanya di hadiri pak lurah dan orang2 yg masih mempunyai hati nurani untuk membantu menguburkan si Mayat (termasuk bapak saya yg ikut menguburkan pak Misno)

Jenasah telah di kuburkan, orang2 hendak meninggalkan kuburan 'Rumah Baru' pak Misno. Tiba2 terdengar bunyi gelegar suara guntur dilangit. Padahal cuaca siang itu lagi cerah banget.
Astaghfirullah, berbagai macam spekulasi muncul di benak masing2 yg ikut menguburkan jenazah pak Misno. Termasuk bapak ku.

Malam tiba, tepat malam jum'at.
Kampung yang sunyi tiba2 heboh dgn teriakan salah satu warga yg melihat ada pocong menangis melayang berputar2 di sekitar t4 pengasingan pak misno dulu.
Itu terjadi berulang2 tiap malam selalu gentayangan di seluruh pelosok kampung.
Kadang terdengar menangis di teras2 rumah penduduk kampung.

Warga yang semakin di cekam oleh teror pocong menangis berkonsultasi dgn para tokoh agama lalu merencanakan penangkapan pocong menangis malamnya kemudian.



Setelah diadakn perundingan, para tokoh Agama akan segera melakukan penangkapan pocong gentayangan yang sering meneror kampungku dan seisinya.
Lokasi penangkapan di lakukan di t4 bekas pengasingan pak Misno dulu sehabis shalat isya.

(Aku waktu itu pengen ikut melihat proses penangkapan pocong menangis itu tapi di larang bapak karena masih kecil dan aku ditinggal di rumah).

Sekitar pukul 10 malam, rasa penasaran ku semakin memuncak. Aku ingin sekali melihat bagaimana orang2 hebat itu menangkap pocong menangis peneror warga kampungku. Dan aku nekad keluar melalui jendela kamarku. Lalu mengendap2 agak jauh dari rumah.

Sudah agak jauh dari rumah, ku lihat kiri kanan sepi. Tak nampak batang hidung 1 manusiapun. Karena agak takut dengan suasana sepi di luar, aku lari sekencang kencangnya menuju t4 penangkapan pocong menangis, Yaitu t4 pengasingan pak Misno dulu yg berjarak kira2 300 meter dr rumahku.

Sampai sudah disana. Nafas ngos2an karena lari cukup jauh tanpa henti.
Eh, belum selesai ngatur nafas aku kaget.
Rumah yg aku tuju lengang, sepi, gelap tanpa cahaya lampu dan tanpa sebatang hidungpun manusia disana.
Kemana semua orang?? Katanya prosesi penangkapan tu pocong disini?? Dan bapakku mana gak kelihatan!

Belum selesai aku berpikir, tiba2 telingaku menangkap suara tangisan yg membuat bulu kudukku berdiri semua. Pandanganku terpaku pada sosok putih2 diatas atap yg menatapku dengan wajahnya yg menyeramkan penuh darah.

Sosok itu melayang mendekat kearahku.
Aku tak bisa lari. Kaki seakan terpaku ke bumi. Mulut terkunci, dan rasa takut semakin membuatku menggigil.

Semakin mendekat aku semakin mengenali wajah sosok pucat penuh darah. Wajah pak Misno!!
Lalu sosok itu berhenti kira2 5 meter dari tempatku. Dia lalu mengeluarkan suara tangisan dan badannya berguncang halus ke kiri kanan.

Setelah itu aku tak ingat apa2 lagi.
Pemandangan seakan gelap dan kabur.
Setelah sadar aku menemukan diriku berada di masjid di kelilingi Orang yg ku kenal, diantaranya adalh bapakku.
Bapak lalu memelukku dan menanyakan keaadaanku, aku baik2 saja. Tapi kepalaku agak sedikit pening.

Setelah itu aku demam n sakit selama hampir 1 minggu. Ketika sakit aku sering mimpi buruk tentang pak Misno dengan wajahnya yg menyeramkan.
Sakitku perlahan2 sembuh dan mimpi buruk itu lama2 hilang ketika aku di terapi oleh pak ustad kenalan bapak.

Setelah sehat, aku menceritakan pengalaman seramku itu pd bapak dan keluarga lainnya.
Dan apa jawaban bapak??
Ternyata malam itu lokasi penangkapan pocong itu di pindahkan ke kuburan pak Misno. Disana di bacakan doa2 untuk ketenangan pak Misno agar tenang di alam sana. Dan ternyata sosok pocong yg menyerupai pak misno adalah sosok jin kafir yg selama ini adalah perewangan pak misno. Jin itu berhasil di tangkap dan di kunci dalam tasbih pak ustad. Tasbih berisi jin kafir itupun kemudian di buang ke laut.

Semenjak itu suasana kampungku tal lagi mencekam. Dan tak ada lg gangguan pocong menangis.

Sekarang aku udah kuliah semester 1 di salah 1 PTN. Dan kisah masa kecil itu kan slalu teringat sampai kapanpun ...

4 komentar:

Briandnezha Syarhan mengatakan...

Terima Kasih udah nerbitin cerita Saya disini ...

alan mengatakan...

oke ,, sama2 :)

GREEN BOY mengatakan...

Wah parah neh ngaku2 sbg briandnezha. Ini crita teman gw di cerita misteri reunion!!

alan mengatakan...

ma'af saya bukan mengaku ngaku...
tapi, saya menerbitkan cerita Briandnezha di blog saya....
dan di cerita tersebut saya juga sudah nulis " created by : Briandnezha
bukan atas nama saya